Kamis, 11 Februari 2010

kacang koro campuran abon

BAU harum daging masak langsung menyergap hidung tatkala Suara Merdeka masuk ke pabrik abon milik Santosa (46) warga Dukuh Bakalan, Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali. Siang itu sejumlah pekerja sibuk memasak daging cincang yang telah dicampur bumbu bahan abon.

Itulah kesibukan para pekerja setiap hari. Di ruangan lain, nampak pekerja sedang mengepak abon yang akan dikirim ke luar kota. Sebagian lainnya, menyayat daging bahan abon dan dendeng dari lemak yang menempel. Lemak harus dibuang untuk menjaga rasa dan kualitas abon dan dendeng. Sementara di pojok halaman, ada pula pekerja yang mencuci kacang koro pedang sebagai bahan bumbu pelengkap.

Tak dinyana, usaha yang mempekerjakan 40 orang itu bakal dikunjungi Presiden SBY, Selasa (20/2) mendatang. Bahkan si pemilik, Santosa juga tidak menyangka bakal mendapat kehormatan tersebut. Dia pun merasa serbasalah karena merasa tidak pantas dikunjungi seorang petinggi nomor satu di Republik ini. ''Walah, Mas lihat sendiri tempatnya hanya seperti ini. Saya merasa tidak pantas menerima beliau,'' ujarnya.

Bedagang Sapi

Dijelaskan, usaha pembuatan abon dan dendeng dirintis sejak tahun 80-an. Awalnya suami Sri Mulyani tersebut hanya berdagang sapi. Namun dia kemudian memutuskan merintis pembuatan abon dan dendeng sapi karena tertarik dengan usaha serupa milik orang tuanya. Melalui kerja keras, kini abon produksinya merambah seluruh kota di Pulau Jawa. Bahkan dia juga memiliki kantor pemasaran di Jakarta.

Tak tanggung- tanggung dari awalnya hanya mampu mengolah beberapa kg daging, kini harus menyembelih 5 - 6 ekor sapi/ hari. Omzet setiap bulan mencapai 20 ton dengan nilai mencapai Rp 1 miliar. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dia membuat lima merk untuk produk abonnya. Kemasan pun bermacam- macam sesuai pesanan distributor dan sasaran konsumen.

''Ada yang kemasan 1/4 kg, 1/2 kg, kemasan kaleng namun ada juga yang dimasukkan dalam peti kayu.'' Meski omzetnya berkembang pesat, dia tetap setia menggunakan cara tradisional. Untuk memasak abon hingga matang, hanya menggunakan tungku kayu. ''Pernah mencoba dengan kompor gas agar cepat, namun malah diprotes pelanggan. Katanya, rasanya menjadi berbeda. Akhirnya, ya kembali menggunakan kayu untuk memasak hingga sekarang.''

Usahanya tidak berhenti pada pembuatan abon saja, bapak seorang putra dan seorang putri ini berusaha melebarkan bisnis lain. Dia mulai merambah usaha toko swalayan, dealer sepeda motor dan pengembang perumahan. Namun, usaha awal penggemukan sapi tetap dilakoninya. Tak heran, waktunya tersita untuk mengurus usahanya tersebut.

''Kami sebenarnya belum apa- apa, ya hanya sekadar berusaha membuka lapangan kerja bagi tetangga. Kami juga memberi dorongan kepada karyawan agar mandiri,'' imbuhnya merendah.

Plt Sekda Boyolali, Ir Mulyatno MSi mengatakan, usaha ekonomi yang dirintis masyarakat perlu mendapat perhatian agar bisa berkembang. ''Di Ampel setidaknya ada 7 usaha sejenis yang bisa memberikan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Pembuatan abon dan dendeng memberi nilai lebih bila dibanding penjualan daging dalam keadaan segar,'' katanya. (Joko Murdowo-64)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0702/16/nas05.htm

share

Bacalah Juga Artikel Terkait :

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes