Tampilkan postingan dengan label koro pedang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koro pedang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2010

Panen Koro Pedang

Umur 4 bulan koro pedang sudah panen. Panen keseluruhan mulai bulan ke 4, 5 dan 6. Usahakan yang dipanen adalah koro pedang yang sudah berwarna coklat tua,kering di pohon. Selanjutnya bisa dikeringkan dengan sinar matahari selama sehari agar mudah pecah. Koro pedang yang masih berwarna kuning kalau ikut di panen, nanti dikeringkan dengan sinar matahari, bijinya jadi kempes.



Rabu, 16 Juni 2010

Tumbuh juga di tanah kering

Koro pedang juga tumbuh di lahan tanah kering. Perakarannya sangat dalam. Dan juga mempunyai kemampuan menyerap air dari udara untuk pertumbuhannya. Serta menyuburkan tanah.

Ditanah kering


ditanah merah kering

Selasa, 16 Februari 2010

di taiwan koro pedang dihargai 1,5 juta per kg

kacang koro BAIFENG atau paifeng bikin sensasi di Taiwan. Setelah disebut-sebut mengandung zat antikanker, kacang koro polong yang di Indonesia dikenal dengan nama kacang koro parang atau kacang koro pedang itu harganya di Taiwan kini melonjak 145 kali, dari US$1 menjadi US $ 145 per kilogram. Itu berarti setara dengan Rp 1,5 juta, harga sebuah televisi 17 inci.

Adalah ahli gizi dari National Taiwan University Hospital dan Taipei Medical College, Prof. Tung Ta Chen, yang membuat paifeng (Canavalia ensiformis atau jack bean) diperebutkan orang. Kisahnya bermula dari berita di harian China News edisi 24 September 1998, media tempat Prof. Tung mengungkapkan hasil penelitiannya terhadap 20 orang pasien.

Selama sepekan, para pasien diberi satu miligram Concanavaline A — disingkat Con A — setiap hari. Con A merupakan lektin tumbuhan yang berasal dari sari kacang koro baifeng. Zat tersebut bisa mengaktifkan sel antikanker atau sel-T pada tubuh manusia. Dan memang, jumlah sel-T di badan 20 pasien itu meningkat drastis. Akibatnya, tentu saja kekebalan tubuh mereka terhadap serangan kanker menjadi semakin tinggi.

Sejak itulah, kacang koro baifeng dipercaya dapat mencegah kanker. Masyarakat Taiwan pun memburunya. Namun, benarkah kacang koro yang panjangnya dua sentimeter–hampir dua kali kacang koro kedelai–dan berwarna putih dengan setrip merah itu sedemikian ampuh membabat sel kanker?

Departemen kesehatan Taiwan menyatakan bahwa manfaat kacang koro baifeng masih perlu diteliti lebih lanjut dan diuji coba secara klinis. Prof. Tung juga memastikan bahwa kacang koro tersebut hanya manjur untuk mencegah kanker, bukan menyembuhkannya.

Ternyata, bagi banyak orang Indonesia, kacang koro baifeng bukanlah barang asing. Tanaman kacang koro yang dulunya didatangkan dari Amerika itu banyak ditemukan di daerah Jawa, Sumatra, dan Maluku. Ia dikenal dengan nama kacang koro parang, kacang koro pedang, atau koro bendo. Tanaman itu tumbuh liar, batangnya merambat satu sampai dua meter. Bunganya berwarna merah keungu-unguan. Meski aromanya kurang sedap, penduduk acap merebus daun muda tanaman kacang koro parang tersebut untuk pelengkap lauk nasi.

Tapi jangan coba-coba untuk langsung mengonsumsi biji kacang koro parang. Sebab, “Ia mengandung racun sianida,” ujar Nisyawati, Ph.D., Staf Pengajar dan Peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Beberapa buku, di antaranya Tumbuhan Berguna Indonesia II dan Taxonomy of Angiosperms, juga tak pernah menyebut-nyebut khasiat kacang koro parang sebagai penangkal penyakit kanker. Buku Medical Herb Index Indonesia hanya menyatakan bahwa kacang koro tersebut bisa digunakan sebagai obat asma, demam, dan penyakit eksim.

Mungkin karena itu pula, Nisyawati dan ahli pengobatan tradisional Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma mengaku terkejut atas penemuan Prof. Tung. Memang sampai kini belum ada penelitian di Indonesia tentang kegunaan kacang koro parang bagi kesehatan. Dari keluarga tanaman kacang koro-kacang koroan, menurut Hembing, yang pernah diteliti dan terbukti berpotensi mengandung zat antikanker barulah kacang koro buncis. Tumbuhan lain yang juga biasa digunakan Hembing untuk mengobati pasien pengidap kanker adalah sambiloto.

Hembing, yang memahami khasiat berbagai tumbuhan, meragukan keampuhan kacang koro parang dalam membasmi kanker. Lagi pula, belum ada penelitian yang memastikan bahwa dengan mengonsumsi kacang koro parang, orang bisa terhindar dari penyakit yang mengerikan itu.

Bagaimanapun, penelitian Prof. Tung tampaknya bisa dijadikan acuan sementara untuk merangsang penelitian kacang koro pedang di sini. Atau penelitian terhadap tumbuhan lain yang banyak tumbuh liar di hutan tropis Indonesia, dan khasiatnya bisa dikembangkan lebih dari yang sekadar diketahui oleh penduduk asli di Kalimantan ataupun Irian.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1998/10/13/ILT/mbm.19981013.ILT95842.id.html

http://koropedang.wordpress.com

Kamis, 11 Februari 2010

kacang koro campuran abon

BAU harum daging masak langsung menyergap hidung tatkala Suara Merdeka masuk ke pabrik abon milik Santosa (46) warga Dukuh Bakalan, Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali. Siang itu sejumlah pekerja sibuk memasak daging cincang yang telah dicampur bumbu bahan abon.

Itulah kesibukan para pekerja setiap hari. Di ruangan lain, nampak pekerja sedang mengepak abon yang akan dikirim ke luar kota. Sebagian lainnya, menyayat daging bahan abon dan dendeng dari lemak yang menempel. Lemak harus dibuang untuk menjaga rasa dan kualitas abon dan dendeng. Sementara di pojok halaman, ada pula pekerja yang mencuci kacang koro pedang sebagai bahan bumbu pelengkap.

Tak dinyana, usaha yang mempekerjakan 40 orang itu bakal dikunjungi Presiden SBY, Selasa (20/2) mendatang. Bahkan si pemilik, Santosa juga tidak menyangka bakal mendapat kehormatan tersebut. Dia pun merasa serbasalah karena merasa tidak pantas dikunjungi seorang petinggi nomor satu di Republik ini. ''Walah, Mas lihat sendiri tempatnya hanya seperti ini. Saya merasa tidak pantas menerima beliau,'' ujarnya.

Bedagang Sapi

Dijelaskan, usaha pembuatan abon dan dendeng dirintis sejak tahun 80-an. Awalnya suami Sri Mulyani tersebut hanya berdagang sapi. Namun dia kemudian memutuskan merintis pembuatan abon dan dendeng sapi karena tertarik dengan usaha serupa milik orang tuanya. Melalui kerja keras, kini abon produksinya merambah seluruh kota di Pulau Jawa. Bahkan dia juga memiliki kantor pemasaran di Jakarta.

Tak tanggung- tanggung dari awalnya hanya mampu mengolah beberapa kg daging, kini harus menyembelih 5 - 6 ekor sapi/ hari. Omzet setiap bulan mencapai 20 ton dengan nilai mencapai Rp 1 miliar. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dia membuat lima merk untuk produk abonnya. Kemasan pun bermacam- macam sesuai pesanan distributor dan sasaran konsumen.

''Ada yang kemasan 1/4 kg, 1/2 kg, kemasan kaleng namun ada juga yang dimasukkan dalam peti kayu.'' Meski omzetnya berkembang pesat, dia tetap setia menggunakan cara tradisional. Untuk memasak abon hingga matang, hanya menggunakan tungku kayu. ''Pernah mencoba dengan kompor gas agar cepat, namun malah diprotes pelanggan. Katanya, rasanya menjadi berbeda. Akhirnya, ya kembali menggunakan kayu untuk memasak hingga sekarang.''

Usahanya tidak berhenti pada pembuatan abon saja, bapak seorang putra dan seorang putri ini berusaha melebarkan bisnis lain. Dia mulai merambah usaha toko swalayan, dealer sepeda motor dan pengembang perumahan. Namun, usaha awal penggemukan sapi tetap dilakoninya. Tak heran, waktunya tersita untuk mengurus usahanya tersebut.

''Kami sebenarnya belum apa- apa, ya hanya sekadar berusaha membuka lapangan kerja bagi tetangga. Kami juga memberi dorongan kepada karyawan agar mandiri,'' imbuhnya merendah.

Plt Sekda Boyolali, Ir Mulyatno MSi mengatakan, usaha ekonomi yang dirintis masyarakat perlu mendapat perhatian agar bisa berkembang. ''Di Ampel setidaknya ada 7 usaha sejenis yang bisa memberikan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Pembuatan abon dan dendeng memberi nilai lebih bila dibanding penjualan daging dalam keadaan segar,'' katanya. (Joko Murdowo-64)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0702/16/nas05.htm

share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes